Published - 11 Hours Ago
Jam 08.47 pagi kamu baru duduk. Kopi belum habis diminum, notifikasi Whatsapp sudah ada 14 pesan.
"Mas, ini harus saya kirim ke siapa ya?" "Klien minta revisi lagi, gimana?" "Boleh minta waktu 5 menit? Ada yang mau ditanyakan."
Sampai sore kamu sadar: seharian kamu sibuk menjawab, tapi target tim sendiri belum tersentuh. Malamnya kamu masih perlu buka laptop, mengerjakan hal yang harusnya bisa selesai siang tadi.
Terasa familiar? Masalah ini sebenarnya ada polanya.
Beberapa tanda yang mungkin kamu kenal:
Akarnya mirip: pola kepemimpinan yang terlalu banyak memberi jawaban.
Coaching bukan sesi motivasi, bukan ceramah, dan bukan sekadar "ngobrol santai". Versi paling sederhana: "Coaching adalah membantu orang menemukan jawabannya sendiri, lewat pertanyaan yang tepat dan mendengarkan yang sungguh-sungguh."
Perbedaannya terasa saat dibandingkan:
Dua-duanya punya tempat. Kalau situasi darurat, kamu memang perlu langsung mengarahkan. Tapi kalau semua percakapan berakhir dengan kamu yang memberi solusi, tim tidak pernah belajar berpikir sendiri.
Leader yang baik tahu kapan memakai yang mana. Kuncinya: jangan memakai satu cara untuk semua situasi.
1. Mendengarkan aktif (Active listening). Dengarkan untuk memahami, bukan untuk merespon. Taruh HP, tatap lawan bicara, dan tahan diri untuk tidak memotong. Kamu akan sadar betapa seringnya jawaban untuk problem itu muncul dari mulut mereka sendiri.
2. Bertanya dengan pertanyaan yang kuat. Ganti "Kenapa belum selesai?" (terasa menyalahkan) dengan "Apa yang membuat ini terasa sulit?" (mengajak berpikir). Pertanyaan terbuka mendorong refleksi, bukan sikap defensif.
3. Memberi umpan balik yang membangun. Jangan mengungkit kesalahan masa lalu. Fokus pada perilaku dan dampaknya, lalu arahkan ke perbaikan ke depan.
Coba satu kali dalam seminggu pada satu anggota tim. Percakapan 15 menit dengan GROW sering lebih bermanfaat daripada rapat satu jam penuh arahan.
Catatan: coaching adalah keterampilan, bukan bakat. Di awal akan terasa canggung, dan itu normal. Seperti semua skill lain, ia lama-lama akan terbiasa lewat latihan.
Membaca konsepnya memang mudah. Menjalankannya di tengah jadwal padat yang sulit. Karena itu, dalam training "Leader as Coach" yang difasilitasi M Learning Centre (MLC) bersama Ruben Saragih untuk para manajer Maxpower dari Medco, pembelajaran dirancang sebagai pengalaman, bukan sekadar presentasi. (cek artikel kami di bagian 'activities')
Peserta mempelajari kerangka GROW, lalu langsung mempraktikkannya lewat role play coach–coachee dengan berbagai skenario. Setiap orang merasakan menjadi coach sekaligus coachee, dan menerima masukan dari rekan sesama peserta. Di akhir, setiap peserta menyusun action plan pribadi, dan komitmen itu dikawal lewat sesi coaching kelompok 30 hari setelah training, agar kebiasaan baru benar-benar terbentuk di tempat kerja.
Kalau timmu atau organisasimu menghadapi pola "semua tanya ke atasan" seperti di atas, training seperti ini bisa dirancang sesuai konteks dan tantangan spesifik perusahaan kamu.
Hubungi MLC untuk berdiskusi tentang program in-house "Leader as Coach" bagi para leader di organisasimu.